1. Jilbab dengan model ini menjelaskan bahwa pemakainya suka mengambil jalan tengah dalam segala persoalan.
2. Model seperti ini baisanya di gunakan oleh ibu-ibu kalangan
borjuis yang menunjukkan kemapanan hidupnya.
3. Penggunaan jilbab seperti ini menjelaskan pemakainya relatif
terbuka dalam bergaul dan banyak berinteraksi dengan sekitarnya.
4. Orang yang memakai jilbab seperti ini biasanya orang yang
sebenarnya tidak berjilbab dan hanya berjilbab ketika mengikuti suatu kegiatan
keagamaan.
5. Jilbab model ini menunjukkan pemakainya sangatlah taat pada
perintah agama dan menjaga dirinya dari hal hal yang kurang baik.- komunikasi massa bersifat umum
- komunikan bersifat heterogen
- media massa menimbulkan keserempakan
- hubungan komunikator-komunikan bersifat non- pribadi
- komunikasi massa bersifat satu arah (one way communication)
Meskipun media sosial dan blog mempunyai beberapa
karakteristik di atas namun demikian tidak bisa dikategorikan sebagai
komunikasi massa. Para ahli menyebut media sosial dan blog sebagai media
konvergen/konvergensi. Maksudnya adalah bauran teknologi komunikasi dan
informasi. Contoh; jika seseorang menonton salah satu program televisi melalui youtube,
maka youtube tidak otomatis berubah menjadi media massa, demikian juga ketika
seseorang menyebarluaskan jaringan berita dari sebuah portal berita melalui
media sosial tidak otomatis masuk kedalam kategori komunikasi massa karena yang
bersangkutan menggunakan media lain yang bukan media massa oleh karenanya
disebut media konvergen.
3. Suatu ketika saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa UIN yang berasal dari Padang. Dia sangat bersemangat dalam beraktifitas di
kampus. Kental dengan budaya dan bahasa melayu. Dia pernah memberitahu saya
sedikit tentang bahasa padang seperti beberapa nama hewan dalam bahasa Indonesia
yang akhirannya ing biasanya ditambahkan huruf “a” sebelum huruf “i” di dalam
bahasa padangnya seperti kambing menjadi kambiang, kucing menjadi kuciang dan
kepiting menjadi kepitiang. Saya mengira itu juga berlaku untuk semua kata
benda yang berakhiran ing lainnya seperti kuping mungkin menjadi kupiang dalam
bahasa padangnya. Lalu saya mencoba menanyakan kepada dia dan ternyata jawaban
yang saya dapatkan bukan sperti yang saya bayangkan kalau kuping dalam bahasa
padang bukanlah kupiang melainkan talingo. Tidak begitu unik menurut saya.
4. Saya akan mencoba menggambarkan diri saya menurut konsep
diri dari psikologi komunikasi. Konsep diri adalah mengamati diri kita sehingga
sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita. saya adalah Aulia Fathul Aziz.
Saya dibesarkan dilingkungan keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai guru
di lembaga-lembaga keagamaan seperti madrasah dan pesantren. Saya tertarik
dengan dunia managerial yang saya temui di lingkungan tempat saya
belajar di salah satu pesantren di Jawa Timur. Dan itu membuat saya terdorong
untuk belajar memahami konsep-konsep dan segala sesuatu yang mendukung dunia managerial
di pesantren tersebut. Saya diberi kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam management
pesantren tempat saya tinggal saat ini di bidang pendidikan dan membuat saya
memutar pikiran untuk mencoba menerapkan segala hal yang saya temui di
pesantren tempat saya belajar dahulu. Dan itu membuat saya semakin bersemangat untuk
mencari tahu cara pengelolaannya dan segala aspek pendukung lainnya seperti
teknologi dll. Hingga saat ini saya masih diberi kepercayaan untuk ikut andil
dalam mengatur proses pendidikan di pesantren tempat saya tinggal tersebut.
5. Ketika saya menghampiri tempat kos teman satu daerah dengan
saya, saya mulai merasa senang karena baru sekarang ini saya bertemu dengan
mereka setelah sekian lama saya mencari-cari teman-teman yang berasal dari
daerah yang sama dengan saya di kota bandung ini. Saya memulai pembicaraan
dengan bahasa Indonesia dahulu karena ingin mengetahui bagaimana pola bicara
teman saya tersebut dalam bahasa Indonesia. Dalam percakapan bahasa Indonesia saya
dengan teman tadi, tidak ada masalah yang menghambat komunikasi saya dengan
teman saya. Lalu kemudian saya memulai bercakap-cakap dengan bahasa daerah
kami. Dan ternyata lagam bahasa anatara kami sedikit berbeda, namun saya masih
bisa memahaminya. Teman saya menyapa saya dengan sebutan pak guru karena dia
tahu kalau sekarang saya sedang menjadi guru di suatu lembaga keagamaan. Kemudian
suatu ketika di hari berikutnya ketika saya hendak mampir lagi ke tempatnya dia
mengirimkan saya pesan pendek dengan bahasa daerah kami yang isinya mau titip
dibelikan sesuatu untuk saya bawa ke tempat kosnya, pesan itu berbunyi demikian
dalam bahasa Indonesia, “belikan rokok 1 pak, nanti saya ganti di tempat kos”
dan saya langsung membelikan apa yang dia pesan dan berharap dia segera
mengganti harganya. Kemudian setelah itu saya tiba di tempatnya dan memberikan apa
yang dia pesan dan alangkah terkejutnya dia. Saya bertanya mengapa dia begitu
terkejut dengan pesanan dia sendiri. Lalu ia memberitahukan saya kalau dia tidak
meminta dibelikan rokok satu pak melainkan satu bungkus saja karena kata “pak”
dalam pesannya mengisyaratkan cara menyapanya kepada saya. Dan akhirnya dia
harus membayar semua harga rokok yang saya belikan untuknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar